kelainan bawaan pada neonatus
TINJAUAN PUSTAKA
1.
Labioskizis
dan Labiopalatoskizis
a.
Definisi
Labioskizis/Labiopalatoskizis
yaitu kelainan kotak palatine (bagian depan serta samping muka serta
langit-langit mulut) tidak menutup sempurna.
Banyak
faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya bibir sumbing. Faktor tersebut antara
lain yaitu :
1) Faktor
genetic atau keturunan
Dimana
material genetic dalam kromosom yang mempengaruhi. Dimana dapat terjadi karena
adanya mutasi gen ataupun kelainan kromosom. Pada setiap sel yang normal
mampunyai 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom non-sex (kromosom 1
s/d 22) dan 1 pasang kromosom sex (kromosom X dan Y) yang menentukan jenis
kelamin. Pada penderita bibir sumbing terjadi Trisomi 13 atau Sindroma P atau
dimana ada 3 untai kromosom 13 pada setiap sel penderita, sehingga jumlah total
kromosom pada tiap selnya adalah 47. Jika terjadi hal seperti ini selain
menyebabkan bibir sumbing akan menyebabkan gangguan berat pada perkembangan
otak, jantung, dan ginjal. Namun kelainan ini sangat jarang terjadi dengan
frekuensi 1 dari 8000-10000 bayi yang lahir.
2) Kurang
nutrisi contohnya defisiensi Zn dan B6, vitamin C pada waktu hamil, kekurangan
asam folat.
3) Radiasi
4) Terjadi
trauma pada kehamilan trimester pertama.
5) Infeksi
pada ibu yang dapat mempengaruhi janin contohnya seperti infeksi Rubella dan
Sifilis, toxoplasmosis dan klamikidia.
6) Pengaruh
obat teratogenik, termasuk jam dan kontrasepsi hormonal, akibat toksisitas
selama kehamilan, misalnya kecanduan alcohol, terapi penitonin.
7) Multifaktoral
8) Diplasia
ektodermal
b.
Patofisiologis
Cacat terbentuk pada trimester pertama kehamilan,
prosesnya karena tidak terbentuknya mesoderm, pada daerah tersebut sehingga
bagian yang telah menyatu (proses nasalis dan maksilaris) pecah kembali.
Labioskizis
terjadi akibat fusi atau penyatuan prominen maksilaris dengan prominen nasalis
medial yang diikuti disfusi kedua bibir, rahang, dan palatum pada garis tengah
dan kegagalan fusi septum nasi. Gangguan fusi palatum durum serta palatum mole
terjadi sekitar kehamilan ke 7 sampai 12 minggu.
c.
Klasifikasi
Bibir
sumbing ada beberapa tingkatan juga istilahnya berdasarkan organ yang terlibat;
Celah di bibir (labioskizis), Celah di gusi (gnatoskizis), Celah di langit
(palatoskizis), Celah dapat terjadi lebih dari satu organ misalnya : terjadi di
bibir dan langit-langit (labiopalatoskizis).
Bibir
sumbing dikatagorikan berdasarkan lengkap/ tidaknya celah terbentuk. Tingkat
kelainan bibir sumbing bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berat.
Beberapa
jenis bibir sumbing yang diketahui adalah :
1) Unilateral Incomplete.
Jika celah sumbing terjadi hanya disalah satu sisi dan tidak memanjang hingga
ke hidung.
2) Unilateral Complete.
Jika celah sumbing yang terjadi hanya disalah satu sisi bibir dan memanjang
hingga ke hidung.
3) Bilateral Complete.
Jika celah sumbing terjadi dikedua sisi bibir dan memanjang hingga ke hidung.

d.
Tanda
dan Gejala
Ada
beberapa gejala dari bibir sumbing yaitu: terjadi pemisahan langit-langit,
infeksi telinga berulang, berat badan tidak bertambah, pada bayi terjadi
regurgitasi nasal ketika menyusui yaitu keluarnya air susu dari hidung.
e.
Diagnosis
Untuk
mendiagnosa terjadi celah sumbing pada bayi setelah lahir mudah karena pada
celah sumbing mempunyai ciri fisik yang spesifik. Sebetulnya ada
pemeriksaan yang dapat digunakan untuk
mengetahui keadaan janin apakah terjadi kelainan atau tidak. Walaupun pemeriksaan ini tidak
sepenuhnya spesifik. Ibu dapat memeriksakan kandungannya dengan menggunakan
USG.
f.
Komplikasi
Keadaan
kelainan pada wajah seperti bibir sumbing ada beberapa
komplikasi
karenanya yaitu :
1)
Kesulitan makan; dialami pada penderita
bibir sumbing dan jika diikuti dengan celah palatum. Memerlukan penanganan
khusus seperti dot khusus, posisi makan yang benar dan juga kesabaran
dalam member makan pada bayi bibir
sumbing.
2)
Infeksi telinga dikarenakan tidak
berfungsi dengan baik saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan
kerongkongan dan jika tidak segera diatasi maka akan kehilangan pendengaran.
3)
Kesulitan berbicara. Otot-otot untuk
berbicara mengalami penurunan fungsi karena adanya celah. Hal ini dapat
mengganggu pola berbicara bahkan dapat menghambatnya.
4)
Masalah gigi. Pada celah gigi tumbuh
tidak normal atau bahkan tidak tumbuh, sehingga perlu perawatan dan penanganan
khusus.’
g.
Penatalaksanaan
Penanganan
untuk bibir sumbing adalah dengan cara operasi. Operasi ini dilakukan setelah
bayi berusia 2 bulan, dengan berat badan yang meningkat, dan bebas dari infeksi
oral pada saluran napas dan sistematik. Dalam beberapa buku dikatakan juga
untuk melakukan operasi bibir sumbing dilakukan hukum Sepuluh (rules of Ten) yaitu, Berat badan bayi
minimal 10 pon, kadar Hb 10 g%, dan
usianya minimal 10 minggu dan kadar leukosit minimal 10.000/ui.
2. Atresia Eshofagus dan Atresia Duodenum
Atresia eshofagus
A.
Devinisi
Atresia oseophagus adalah gangguan kontinutas
esophagus dengan /tanpa hubungan dengan trackea atau esophagus (kerongkongan)
yang tidak terbentuk secara sempurna.
Variasi dari atresia esophagus ini, antara lain bagian atas esophagus berakhir
pada kantong buntu, bagian atas esophagus berakhir dalam trackea, serta bagian
atas bawah esophagus berhubungan dengan trackea setinggi karina (atresia
esophagus dengan fistula). Kebanyakan bayi yang menderita atresia esophagus
juga memiliki fistula trakeasofagel
(suatu hubugan abnormal antara kerongongan dan trakrea/ pipa udara)

B.
Prognosis
Insiden
atresia esophagus adalah 1:2500 kelahiran hidup, Sebanyak 86% kasus terdapat
fistula trakeaesfagel di distal, 7% kasus tanpa fistula, dan 4% kasus terdaoat
fistula trakeaesofagel tanpa atresia. Terdapat 50% kasus disertai kelainan
bawaan lain (Hubungan VACTERL) yaitu kumpulan dari beberapa kelainan, meliputi
vertebral defect, anorectal malformation, cardiovaskuler defect, trakeaesofagel
defect, renal anomaly, serta limbs defect.
Klasifikasi
menurut Vogt (1953), atresia esophagus, dibedakan menjadi lima macam, yitu
atresia esophagus dengan fistula trakeaesofagel distal, atresia esophagus
terisolasi tanpa fistula, fistula trakeaesofagus tanpa atresia, atresia
esophagus dengan fistula trakeaesofagus proksimal, serta atresia esophagus
dengan fistula trakeaesofagel distal dan proksimal.
C.
Etiologi
Sebagian
besar kasus atresia esophagus penyebabnya tidak diketahui dan kemungkinan
terjadi secara multifactor. factor genetik, yaitu sindrom trisomi 21, 13 dan 18
kemungkinan dapat meningkatkan kejadian atresia esophagus. factor lain terjadi
secara sporadic dan rekurens pada saudara kandung (2%).
D.
Gejala
Gejala
atresia esophagus dapat dideteksi sejak masa prenatal,, yaitu dengan adanya
gelembung perut (bubble stomach) pada
USG kehamilan 18 minggu serta kejadian polihidraminon. Gejala yang terlihat
pada jam-jam pertama kehidupan dan di diagnose sebelum makanan pertama
diberikan, antara lain berupa hipersaliva dan saliva mengalir dalam bentuk
buih, setiap pemberian makan, bayi batuk dan ada sumbatan, sesak napas dan
sianosis, sukar makan dan cenderung terjadi aspirasi pneumoni (2-3 hari setelah
pemberian).
Pneumenitis
akibat refluks cairan kantong melalui kantong bagian bawah, perut buncit karna
udara masuk usus melalui fistula trakeaesofagus, bila dimasukan melalui mulut,
kateter akan terbentuk pada ujung esophagus dan melingkar-lingkar. Pemeriksaan
diagnostic dapat pula dilakukan untuk menegkan diagnosis, dengan cara
memasukaan kateter radiopag/ larutan kontras lipiodol lewat hidumg ke
esophagus.
E. Komplikasi
Komplikasi
kasus atresia esophagus diantaranya adalah dismotilasi esophagus,
gastroesofagus refluks, fistula trakeaesofagus berulang, disfagia, kesulitan
bernapas dan tersedak, batuk kronis, serta infeksi saluran napas.
F. Penaganaan dan pengobatan
Pembedahan
pada kasus atresa esophagus berupa torakotomi kanan, yang bertujuan untuk
memisahkan fistula trakeaesofagus, menutup trakea dan menyatukan dua segmen
esophagus. Pembedahan ditunda apabila bayi dengan BBLR, pneumonia dan anomaly
mayor lain. Asuhan yang diberikan selama penundaan tindakan pembedahan, antara
lain pemberian nutrisi parenteral, gastronomi, serta melakukan suction kontinu.
penundaan dilakukan sampai usia bayi 6 bulan-1 tahun.
Perawatan
preoperasi, meliputi erofaring dibersihkan, memasang French tube untuk suction esophagus
secara kontinu, kepala bayi evalasi, pemberian infuse dextrose 10% merawat bayi
di incubator di NICU, bayi sering diransang untuk menaggis agar paru-paru
berkembang, pemberian 02 bila perlu memasang endotracheal tube serta pemberian antibiotika.
Perawatan
pascaoperasi pasca perbaikan primer atresia esofagus dan pemesahan fistula
trakeaesofagel, meliputi perawatan rutin pasca bedah, klem kateter dibuka dan
hubungan dengan botol, observaasi cairan, setaip jam, ventilasi mekanik 24 jam
pasca operasi, dilanjutkan pemberian 02 lewat headbox dengan kelembaban tingkat tinggi, merawat bayi di
incubator, observasi vital sign setiap jam selama 8 jam dan setiap 2 jam selama
4 jam melakukan aspirasi cairan lambung secara oral, nasal dan endotrakeal
setiap jam. Adanya reflex cairan lambung dapat menyebabkan anastomosis terbuka
kembali.
Atresia Duodenum
A. Definisi
Atresia Duodenum adalah kondisi dimana
duodenum (bagian pertama dari usus halus) tidak berkembang dengan baik,
sehingga tidak memungkinkan perjalanan makanan dari lambung ke usus.

B. Patofisiologis
Muntah
menyebabkan hilangnya sekresi lambung dan duodenal, dapat mengakibatkan
terjadinya dihidrasi dan defisiensi sodium, klorida, dan ion hydrogen dan
biokarbonat.
C. Gambaran klinis
Gambaran
klinis yang dijumpai pada bayi dengan atresia duodeni, antara lain, polihidraminon
terlihat 50% dengan atresia duodenal, muntah terjadi pada masa awal terjadinya
atresia duodenal, biasanya terjadinya hari pertama atau kedua post
natal.Distonsia abdominalis tidak sering terjadi dan berbatas pada abdomen
bagian atas. Banyak bayi dengan atresia duodenal mempunyai abdomen scaphod,
sehingga obstruksi intestinal tidak segera dicurigai.Pengluaran mekonium
tercatat pada 30% pasien. jaundience
terlihat pada 40% pasien, dan diperkirakan peningkatan karna resirkulasi
enterohepatik dari bilirubin. Bayi terlihat susah makan, muntah-muntah dan ada
gangguan pertumbuhan.
D. Diagnosis
Diagnosis
atresia duodeni dikonfirmasi dengan pemeriksaan x-ray abdomen. Sebuah foto
upright abdomen menunjukan gambaran klasik ‘double bubble”. Pemeriksaan dengan kontras
tidak diperlukan. Bila udara terlihat pada usus distal dari duodenum, obstruksi
incomplete mengarahkan pada stenosis duodenal atau malrotasi. Malrotasi dengan
volvulus harus dicurigai (dan disingkirkan) bila abdomen tidak berbentuk
scaphoid setelah pemasangan nasogastrik tube.
1)
Gastromi dilakukan jika gejalanya
menetap serta perbaikan dini tidak terjadi
2)
Akses pada vena sentral tatau
transanastomosis tube ke dalam jujenum diindikasi bagi nutrisi pasca operasi
pada pasien yang berat.
Prosedur
perwatan pasca aoperasi pada kasus atresia duodeni, Meliputi:
1)
dikomperasi gaster dilakukan sampai
duodenum benar-benar kosong, Selanjutnya dimulai feeding. Sebagiaan pasien
dapat diberi makan seminggu setelah operasi
2)
TPN atau makanan melalui jejunum
terkaddang dibutuhkan
3)
Antibiotika tidak diindikasi jika
operasi dilakukan steril dan tidak ada gangguan vaskuler.
E. Komplikasi
Komplikasi dari atresia duodeni, diantaranya
dalah trauma pada ampula vateri sering terjadi pada setia operasi jika tidak
diidentifiksi dengan baik. juindice
yang meningkat pasca operasi merupakan indikasi bagi scanning isotop liver untuk mengepaluasi ekskresi empedu. Operasi
ulang dibutuhkan jika terdapat obstruksi. Jika terjadi istruktur anastomis maka
diperlukan reoperasi. Pengosongan duodenum yang lamabat bukan meruakan indikasi
untuk reoprasi sebelum 3 minggu dan setelah dibuktikan dengan pemeriksaan raiologis.
F.
Prognosis
Sebanyak 90% penderita atresia duodeni yang
dioperasi dapat menjalani hidup dengan baik. Mortalitas banyak tergantung pada
kelainan lain yang menyertai.
G. Penaganaan
Kecuali
bila ada kondisi yang mengancam jiwa, operasi diindikasi untuk semua bayi yang
mengalami kondisi ini, Karna malformasi ini dapat diperbaiki dengan sempurna.
Persiapan operasi, meliputi prinsip umum persiapan terapi pasda neonatus,
koreksi cairan dan elektrolit, pertimbangan khusus diberikan pada atresia duodenum.
Koreksi emergensi tidak dibutukan kecuali diduga ada mal rotasi. pada obstruksi
parsial yang lama, malnutrisi biasanya berat, koreksi melalui TPN selama
seminggu atau lebih sebelum operasi.
Prosedur
perawatan operasi pada kasus atresia duodeni, meliputi
3)
end-to-end anastomosis juga bisa
side-to-side
4)
anulare pancereas terbaik dilakukan by
pass anastomis dari duodenum ke jejunum. pancreas sendiri tidak diincisi
5)
eksisisi terhadap web merupakan pilihan
tepat bagi atresia duodenum yang terbentuk diafragmatika setelah identifikasi
ampula vateri
6)
Deformitas “windsock”harus disangkakan
dan dicari bagi semua pasien dengan atresia duodenum yang berkelanjutan.
kateter dimasukkan kedalam prokimal sampai distal untuk memastikan patensinya.
3. Atresia
rekkti dan anus
A. Definisi
Atresia
anus (anus imperforanatus) adalah suatu keadaan menderita atresia anus tidak
terbentuk. Kebanyakan bayi yang menderita atresia anus juga memiliki fistula,
perineum maupun kandung kemih. Atresia anus adalah kelainan tanpa anus atau dengan
anus tidak sempurna, akibat kegagalan penurunan septum anorektal pada masa
embrional, termasuk agenesis ani, agenesis rekti dan atresia ani.

B. Etiologi
Atresia
anus adalah suatu kelainan bawaan. Keadaan ini terjadi akibat ketidaksempurnaan
proses pemisahan septum anorektal. Insiden dari atresia anus ini adalah 1:5000
kelahiran, serta merupakan penyakit tersering dari sindrom VACTERL.
C. Klasifikasi
Klasifikasi
menurut melbourne, atresia anus di bedakan menjadi tiga,yaitu atresia anus
letak tinggi, yaitu rektum berakhir di atas m. levator ani (m. Pubokoksigeus);
atresia anus letak intermediet, yaitu rektum berakhir di m.levator ani; serta
atresia anus letak rendah, yaitu rektum berakhir di bawah m.levator ani.menurut
gross (1966 sit.ngastiyah, 2005). Atresia anus di kelompokan menjadi stenosis
rektum yang lebih rendah (pada anus); membran anus menutup; anus imprforata dan
ujung rektum buntu, disertai fistula rektovaginalis atau rektovestibuler (pada
perempuan), fistula rektovesika, rektouretralis atau rektoperinealis (pada
laki-laki), serta lubang anus terpisah dengan ujung rektum.
D. Gejala
Gejala atresia anus, di antaranya adalah
mekonium (tinja pertama pada bayi baru lahir) tidak keluar dalam waktu 24-48
jam setelah lahir, tinja keluar dari vagina atau uretra, perut menggembung, jika di susui, bayi akan muntah. Bayi cepat
kembung 4-8 jam setelah lahir. Tidak di temukan anus, kemungkinan ada fistula.
Bila ada fistula rektovestibuler dan mekonium keluar dari fistula tersebut,
berarti terjadi atresia anus letak rendah.
E. Diagnosis
Diagnosis di tegakan
berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Menurut PENA, diagnosis atresia anus dapat ditegakkan
melalui pemeriksaan perineum dan urin pada bayi laki-laki. Bila fistula
perianal positif (+),berarti atresia anus letak rendah. Bila mekonium
positif(+), berarti atresia anus letak tinggi. Bila ragu-ragu maka perlu
dilakukan pemeriksaan invertogram. Sebanyak 90% diagnosis atresia anus pada
perempuan disetai fistula, dapat di tegakkan melalui pemeriksaan invertogram.
F. Penanganan
Penanganan kasus atresia anus adalah dengan dilakukan pembedahan untuk
membentuk lubang anus. Jika terdapat fistula, juga dilakukan penutupan fistula.
Pertolongan pertama apabila menemukan kasus atresia anus, di antaranya
adalah memberikan dukungan emosional dan keyakinan pada ibu, tidak memberikan
apapun lewat mulut, menutup organ yang menonjol dengan kasa steril yang di
basahi salin normal, menjaga kasa tetap basah dan memastikan bayi tetap hangat,
memasang infus, pipa lambung untuk membiarkan cairan lambung mengalir bebas,
serta persiapan melakukan rujukan ke rumah sakit.
Penatalaksanaan menurut leape (1987), tergantung dari klasifikasi
atresia anus yang di alami bayi. Pada atresia anus letak tinggi dan intermediet,
dilakukan sigmoid kolostom, 6-12 minggu kemudian tindakan definitif (PSARP).
Pada atresia anus letak rendah, dilakukan tes provokasi dengan stimulator otot
untuk mengidentifikasi batas otot sfingter anisekitar anus dan melakukan
perineal anoplasti. Pada atresia anus disertai fistula, dilakukan cut back
incicion. Pada stenosis ani di lakukan dilatasi rutin.
Penanganan pascaoperasi, antara lain dengan memberikan antibiotika
secara intravena selama 3 hari, salep antibiotika selama 8-10 hari. Setelah 2
minggu pascaoperasi, di lakukan anal dilatasi dengan hegar dilatation 2 kali
sehari dan anal dilatator setiap minggu sampai hegar ukuran 13-14 mudah masuk.
4. Hernia Diafragmatika
1.
Devinisi
Hernia diafragmatika termasuk
kelainan bawaan yang terjadi karena tidak terbentuknya sebagian diafragma,
sehingga ada bagian isi perut masuk ke dalam rongga torak (Nanny Lia Dewi,
Vivian 2010).

Menurut Maryanti Dwi, (2011) pengertian Hernia
Diafragmatika adalah :
a. Hernia
adalah keluarnya isi rongga tubuh atau abdomen lewat suatu celah pada dinding
yang mengelilinginya.
b. Hernia
diafragmatika adalah penonjolan organ perut ke dalam rongga dada melalui suatu
lobang pada diafragma. Diafragma adalah sekat yang membatasi rongga dada dan
rongga perut. Lambung, usus dan bahkan hati dan limfe menonjol melalui hernia.
Jika hernianya besar, biasanya paru-paru pada sisi hernia tidak berkembang
secara sempurna.
c. Suatu
kelainan bawaan yang terjadi apabila satu sisi diafragma tidak terbentuk.
Kelainan berupa penutupan tidak sempurna dari sinus pleuroperitonial (foramen
Bochdalek) yang terletak pada bagian postero-lateral dari diafragma. Isi
abdomen mengalami herniasi ke dalam rongga dada pada awal masa janin dan
menghambat pertumbuhan paru.
Type
Hernia
a. Hernia
redusible
Jaringan
yang ke luar mudah dikembalikan ke dalam rongga abdomen.
b. Hernia
iredusible
Jaringan
yang ke luar tidak mudah dikembalikan ke dalam rongga abdomen karena adanya
perlengketan pada kantong tersebut.
c. Hernia
stranggulata
Leher
kantong sebagai tourniquet menyumbat
aliran darah sehingga lumen usus dan usus menjadi kematian jaringan beberapa
jam.
2.
Klasifikasi
a. Hernia
Morgagni
Terjadi pada bagian retrosternal
yaitu di dekat prosessus xypoideus atau di bagian anterior diafragma. Umumnya
timbul gejala pada dewasa.
b. Hernia
Bochdalek
Terjadi
pada bagian dorsal atau dibagian posterior diafragma. Umumnya langsung
menunjukkan gejala pada saat bayi.
3.
Tanda
dan Gejala
1) Kulit
berwarna pucat bahkan biru.
2) Sesak
nafas.
3) Retraksi
sela iga dan substernal.
4) Perut
kecil dan cekung.
5) Suara
nafas tidak terdengar pada paru karena terdesak isi perut.
6) Bunyi
jantung terdengar di daerah yang berlawanan karena terdorong oleh isi perut.
7) Terdengar
bising usus di daerah dada.
8) Muntah.
4.
Etiologi
Penyebab
tidak diketahui pasti. Ditemukan pada 1/2200 – 5000 kelahiran hidup dan 80 -
90% terjadi pada sisi tubuh bagian kiri.
5.
Penatalaksanaan
1) Posisikan
neonatus dengan kepala dan dada lebih
tinggi dari kaki. Pertahankan posisi ini hingga selesai operasi.
2) Lakukan
intubasi dini dan ventilasi tekanan positif (VTP) jika terjadi cyanosis.
3) Lakukan
rujukan sesegera mungkin untuk tindakan pembedahan perbaikan lubang diafragma
dan pengembalian organ abdomen.
TINJAUAN
KASUUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU
LAHIR
1.
Subjektif
A. Identitas
Nama Bayi :
By R
Umur : 1 jam
Tanggal/jam lahir : 10 Maret 2014 / 08.00 WIB
Jenis Kelamin :
Perempuan
Nama Ibu : Ny K Nama Suami :
Tn P
Umur : 25 tahun Umur : 29 tahun
Suku/Kebangsaan : Jawa Suku/Kebangsaan : Jawa
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMK Pendidikan : STM
Alamat Rumah : Kp.Sabi Alamat
Rumah : Kp. Sabi
Telp : 0813 xxx Telp :
0813 xxx
Pada tanggal :
10 Maret 2014 Pukul : 09.00
WIB
1. Keluhan :
Ibu mengatakan bahwa sulit memberikan ASI kepada anaknya
2. Riwayat
Kehamilan
a. Pemeriksaan
selama kehamilan
Trimester I :
Frekuensi : 1 kali, oleh Bidan
Keluhan : Mual,pusing
Trimester II :
Frekuensi : 1 kali, oleh Bidan
Keluhan : Tidak ada
Trimester II :
Frekuensi : 1 kali, oleh Bidan
Keluhan : Cemas
b. Riwayat
Penyakit Kehamilan
1. Pendarahan : Tidak ada
2. Pre-eklamsi : Tidak ada
3. Eklamsi : Tidak ada
4. Penyakit
Kelamin : Tidak ada
5. Lain-lain : Tidak ada
c. Kebiasaan
Sewaktu Hamil
Makan sehari-hari : Nasi, sayur, lauk-pauk, buah-buahan, susu
Obat-obatan/jamu : Vit FE
Merokok :
Tidak ada
Minuman alkohol : Tidak ada
Lain-lain :
Tidak ada
3. Riwayat
Persalinan sekarang
a. Jenis
Persalinan : Spontan, Normal
b. Usia
Kehamilan : 37 minggu
c. Penolong
Persalinan : Bidan
d. Lama
Persalinan : 10 menit
e. Ketuban
Pecah : Amniotomi Warna :
Jernih
Tidak bau Jumlah : ± 500
cc
f. Plasenta : Lahir lengkap
g. Komplikasi
Persalina
1. Ibu : Tidak ada
2. Bayi : Tidak ada
h. Keadaan
Bayi baru lahir :
Warna Kemerahan,
Frekuensi jantung normal, Usaha nafas baik, Tonus otot bergerak aktif, reflex
baik
Resusitasi
Penghisap Lendir :
dilakukan
Rangsangan : tidak dilakukan
Ambu : tidak dilakukan
Massage Jantung : tidak dilakukan
Massage Jantung : tidak dilakukan
Intubasi endotraceal :
tidak dilakukan
Oksigen : tidak dilakukan
Terapi : tidak dilakukan
Keterangan : dalam batas normal
II Objektif
1. Keadaan
umum :
Baik
Kesadaran :
Compos Mentis
2. Tanda-tanda
vital
a. Heart
rate : 122 x/menit, teratur
b. Pernafasan :
40 x/menit, teratur
c. Suhu : 36,5o C
3. Pemeriksaan antropometri
a. Berat
badan bayi : 2800 gram
Berat badan saat ini : 2800
gram
b. Panjang
badan : 49 cm
c. Lingkar
kepala : 31 cm
d. Lingkar
dada : 30 cm
e. Lingkar
lengan atas : 10 cm
4. Pemeriksaan
fisik secara sistematis
a. Kepala :
Bulat, terdapat rambut, ubun-ubun besar teraba datar, tidak
cekung/ cembung, ubun-ubun kecil teraba
datar, tidak
cembung/cekung, tidak ada molase
b. Muka :
Proposional dengan tubuh
c.
Mata : Simetris kiri dan kanan, sclera putih, tidak
ikterik, konjungtiva
merahmuda, tidak pucat
d. Telinga :
Simetris kanan dan kiri, terdapat secret. kartilago menggantung
dan terbentuk sempurna
e. Hidung : Tidak simetris
kanan dan kiri, terdapat dua lubang, tidak
ada secret
f. Mulut : Bibir merah muda, lembab, terdapat bibir
sumbing, reflek
menghisap kurang baik.
g. Leher : Ukuran normal, gerakan baik
h. Dada : Terdapat dua putting, dalam satu garis lurus,
Bentuk
normal, pernafasan baik, denyut jantung teratur
i.
Abdomen : Tidak ada pendarahan pada tali pusat, tali
pusat berwarna
putih kebiruan
j.
Genetalia : Terlihat labia mayora menutupi labia minora,
terdapat 2
lubang uretra dan vagina
k. Kaki
dan tungkai : Bentuk Simetris, gerakan aktif, jumlah jari
lengkap
l.
Punggung :
Tidak ada benjolan atau tumor,tidak ada kelainan
m. Anus : Berlubang
n. Kulit :
Warna kulit keerahan, terdapat lanugo, terdapat verniks
kaseosa
5. Reflex
a. Reflex
rooting :
(+) Positif
b. Reflex
sucking : (-) Negatif
c. Reflex
tonick neck : (+) Positif
d. Reflex
graphs : (+) Positif
e. Reflex
moro : (+) Positif
f. Reflex
stapping : (+) Positif
6. Eliminasi
a. Miksi : Sudah, Tanggal/pukul : 25 Februari 2014 /
09.00
WIB
Warna :
Jernih Volume
: ± 100
cc
Lain-lain : Tidak
ada
b. Mekonium : Sudah, Tanggal/pukul : 25
Februari 2014 / 09.00 WIB
Warna : Hijau Tua Konstitensi :
Lunak
Lain-lain : Tidak ada
7. Pemeriksaan
penunjang/Laboratorium
Tidak dilakukan
III Assesment
By
Ny R usia 1 jam Neonatus cukup bulan Sesuai usia kehamilan dengan Labioskizis
IV Planning
of Action
Tanggal
: 10 Maret 2014 Pukul
: 09.30 WIB
1.
Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa
bayinya saat ini mengalami kelainan pada bibir atas yang terbelah yaitu
terdapat bibir sumbing, ibu sudah mengerti tentang kondisi bayinya.
2. Berikan dukungan dan motivasi pada
ibu dan keluarga, bidan telah memberikan motivasi dan dukungan pada ibu dan
keluarga.
3.
Jelaskan pada ibu bahwa kelainan yang diderita
menyebabkan bayinya susah untuk melakukan proses menyusui, ibu telah mengerti dan
mengetahui tentang penjelasan bidan.
4.
Anjurkan ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayi dengan cara
membedongnya dan memeluknya, ibu sudah
mengerti dan akan menjaga kehangatan bayinya.
5.
Ajarkan ibu cara merawat tali pusat dengan membungkus
tali pusat dengan kasa dan tidak dibubuhi apapun, ibu telah mengerti tentang
cara merawat tali pusat bayinya.
6.
Bantu ibu dalam proses memberikan nutrisi/menyusui
bayinya dengan cara menekan payudara untuk mengeluarkan susu atau dengan
menggunakan alat khusus seperti dot domba, agar kebutuhan nutrisi bayi
terpenuhi. Ibu sudah mengerti penjelasan bidan.
7.
Jelaskan kepada ibu bahwa sebagian besar hal penting
harus dilakukan saat ini adalah memberikan makanan bayi guna memastikan pertumbuhan yang adekuat sampai pembedahan
yang dilakukan, ibu telah mengerti
tentang penjelasan bidan .
8.
Anjurkan ibu untuk menepuk-nepuk punggung bayinya
berkali-kali karna cenderung untuk menelan banyak udara, Ibu telah mengerti
tentang penjelasan bidan
9.
Dokumentasikan hasil pemeriksaan, melakukan dokumentasi,
dokumentasi telah dilakukan
Tangerang,
10 Maret 2014
Didokumentasikan
oleh
(………………………….)
Mengetahui
Pembimbing Pendidikan Pembimbing Lapangan
(………………………………) (………………………………)
DAFTAR PUSTAKA
Maryanti
Dwi, dkk.2011. Buku Ajar Neonatus, Bayi
dan Balita. Jakarta: TIM
Nanny Lia Dewi, Vivian. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta: Salemba Medika
Rukiyah, Ai Yeyeh, dkk.2012. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta: TIM
Muslihatun, Wafi Nur. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta: Fitramaya
Nanny Lia Dewi, Vivian. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta: Salemba Medika
Rukiyah, Ai Yeyeh, dkk.2012. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta: TIM
Muslihatun, Wafi Nur. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta: Fitramaya
Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba Medika.
Komentar
Posting Komentar